Janda Mantan PM GAM Beberkan Kisah Hidup Suaminya

Atjehcyber.com – Azimar (71), istri mantan Perdana Menteri (PM) Aceh Merdeka, mengisahkan tentang perjalanan hidup suaminya, dr Muchtar Y Hasbi. Sejak pertemuan pertama, berkeluarga, hingga maut memisahkannya. Tak lebih dari sembilan tahun, kebersamaan itu dilaluinya sebelum Muchtar pergi bergerilya, dan akhirnya tewas tertembak di Pulo Tiga Kualasimpang, 13 Agustus 1980.

“Pada tanggal 14 Mei 1977 pukul 10.00 pagi, datang seorang yang tak saya kenal ke rumah. Pria ini membawa kabar bahwa Bang Muchtar akan ditangkap besok,” katanya saat menjelaskan isi bukunya yang berjudul: “Perjuangan Janda Mantan PM Aceh Merdeka” catatan Azimar (Istri dr Muchtar Y Hasbi), di Ruang Teater, Museum Safwan Idris Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry, Banda Aceh, Sabtu (15/11).

Acara yang dipandu Zainal Arifin M Nur (editor/wartawan Serambi Indonesia) menghadirkan pembedah dari perwakilan intelektual perempuan Aceh, Dr Eka Srimulyani. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Internasional Conference on Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) ke V.

Azimar mengatakan, buku karangannya menyampaikan pesan tentang kesetiaan dan perjuangan seorang janda dalam menjaga amanah almarhum suami. Terutama dalam membesarkan ketiga buah hatinya, agar tidak bergantung pada orang lain.

Ia menyatakan, kata-kata terakhir yang paling diingatnya adalah “Ini saatnya Papa pergi Ma. Jaga anak baik-baik, jangan dipukul,” katanya meniru ucapan Muchtar saat anak ketiganya, M Aron Pase, yang kala itu masih berumur 18 hari sebelum berpisah untuk selamanya.

Menariknya, semasa Muchtar masih hidup, Azimar tidak pernah mengetahui keterlibatan suaminya dalam pergerakan perjuangan. Terakhir diketahui setelah deklarasi Aceh Merdeka. “Beliau ternyata berkedudukan sebagai Wakil Wali Neugara Aceh Merdeka. Ada juga yang mengatakan beliau Perdana Menteri pertama dalam pergerakan Aceh Merdeka,” tambahnya.

Terkait buku itu, pembedah Eka Srimulyani mengatakan, ada beberapa hal yang menarik dari buku tersebut. Menurutnya, Azimar memiliki memori dan kemampuan menjaga dokumen yang memperkuat tulisan tersebut. Seperti foto, SK pengangkatan PNS, dan piagam lulus kuliah (ijazah) Muchtar Y Hasbi.

Selain itu, buku itu juga mengambarkan peran seorang istri yang menjaga amanah suami, kesetiaan, dan kesabaran dalam mendidik anak, tanpa melihat siapa yang kalah dan menang dalam perjuangan suaminya.

Ia mengungkapkan, catatan sejarah seperti yang dilakukan Azimar perlu dilestarikan, apa lagi yang berkenaan dengan konflik. Sehingga, generasi selanjutnya bisa memahami dan mempelajari kondisi Aceh dari tulisan-tulisan orang yang terlibat langsung dalam masa itu. “Ini menjadi tantang jurnalis dan kampus untuk mengarapnya. Karena masih banyak orang-orang yang terlibat pada masa konflik masih hidup,” tuturnya.

Direktur Bandar Publishing, Mukhlisuddin Ilyas mengatakan, buku “Perjuangan Janda Mantan PM Aceh Merdeka” ini akan diluncurkan pada tanggal 4 Desember 2014. Mukhlis menyebutkan, buku ini dilengkapi dengan kata pengantar dari Gubernur Aceh dr. H Zaini Abdullah, yang merupakan rekan seperjuangan dr Muchtar Hasbi.

Selain buku catatan Azimar, kemarin, panitia Internasional Conference on Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) ke V juga membedah dua dua buku lainnya: “Aceh: Kebudayaan tepi Laut dan Pembangunan” yang diterbitkan Pusat Studi Hukum Adat Laut dan Kebijakan Perikanan Unsyiah (Pushal) dan Dari Tsunami Datangnya Cinta: Pengalaman dan Harapan Melalui Lukisan dan Novel” karya Dipo Alam, Sekretaris Kabinet Republik Indonesia era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

  • Sumber: Serambi Indonesia

You May Also Like

About the Author: KajiRo