Kisah Pilu Fanisa, Anak Korban Tsunami Dijual ke Malaysia

Written by
Fanisa Rizkia memberi keterangan pers kepada Serambi Indonesia di ruang Kepala Dinas Sosial Aceh, Banda Aceh, Jumat (19/12). (c) Serambi

Fanisa Rizkia memberi keterangan pers kepada Serambi Indonesia di ruang Kepala Dinas Sosial Aceh, Banda Aceh, Jumat (19/12). (c) Serambi

Atjehcyber.comTsunami Aceh 2004 menyisakan selaksa kisah. Meski sudah berlalu 10 tahun, ada saja yang terus terungkap dari balik prahara yang menggetarkan dunia itu.

Kisah yang terungkap kali ini tentang seorang anak perempuan bernama Fanisa Rizkia (15), asal Mon Geudong, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe. Fanisa yang dulunya bernama Cut Lisa merupakan salah seorang yang selamat dari amuk bencana 26 Desember 2004. Waktu itu ia berumur lima tahun.

Dalam rentang waktu yang hampir 10 tahun, banyak sekali peristiwa yang dialami Fanisa. Dia melewati hari-hari berbalut misteri dan tantangan. Puncaknya, dia dijual ke negeri seberang, Malaysia dan dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga.

Kasus Fanisa terungkap setelah pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia mengendus adanya praktik mempekerjakan anak di bawah umur asal Indonesia dengan memalsukan paspor dan memindai palsu KTP. “Atas perintah Pak Gubernur, kami mengurus pemulangan Fanisa,” kata Kadis Sosial Aceh, Bukhari Aks MM didampingi Kepala Pelaksana BPBA, Said Rasul saat tiba bersama Fanisa di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh Besar, Jumat, 19 Desember 2014.

Kepada wartawan di ruang VVIP Bandara SIM, Fanisa menceritakan masa lalu dan perjalanan hidupnya hingga akhirnya dikembalikan ke Aceh. Fanisa mengaku, saat tsunami ia berusia lima tahun. Bersama keluarganya ia tinggal di Banda Aceh, namun ia tidak ingat lagi alamat rumahnya. “Rumah kami dekat laut,” katanya.

Saat tsunami, ia terpisah dengan orang tua, abang dan kakaknya. Ia diambil oleh seseorang bernama Sabariah dan seminggu pasca tsunami dibawa ke Medan. “Saya diambil Bayah (panggilan Sabariah) dan dibawa ke Medan. Saya tak tahu di mana ayah, mamak, abang, dan kakak,” kisah anak bungsu dari tiga bersaudara itu.

Fanisa menyebutkan, ayahnya bernama Zakaria dan ibunya Cut Uti Mariati. Sedangkan abangnya bernama Muhammad Hari dan kakaknya biasa dipanggil Kak Nong.

Saat diwawancarai ulang oleh Serambi di Dinas Sosial Aceh, Sabtu kemarin, Fanisa menceritakan tentang Sabariah yang akrab dipanggilnya Bayah.

Bayah adalah orang yang mengadopsinya saat musibah tsunami. Bayah sendiri mengaku adalah teman dekat dari ibunda Fanisa. Ketika bencana terjadi, Fanisa diselamatkan oleh Bayah dan dibawa ke sebuah masjid di Banda Aceh.

Ketika Serambi berulangkali menanyakan di mana rumahnya ketika bencana tsunami terjadi, Fanisa tidak bisa mengingatnya. “Saya tidak tahu di mana, yang jelas saya memang di sini (Banda Aceh). Yang saya ingat lokasi rumah saya ada laut di dekatnya,” ujar Fanisa dengan mata berkaca-kaca.

Di Medan, Fanisa tinggal bersama Sabariah di sebuah rumah di Jalan Rahmadsyah, Gang Haji Ridho. Sabariah bekerja di usaha laundri dan tidak bekeluarga. Dari hasil kerjanya itu, kata Fanisa, Sabariah mampu menyekolahkannya hingga SMP. “Bayah baik sekali, dia membiayai saya sekolah dan makan, sudah seperti ibu sendiri, seperti keluarga sendiri,” ujar Fanisa.

Hari terus berganti. Fanisa tumbuh menjadi seorang remaja. Namun ia mengaku ada sesuatu yang menjanggal hatinya. Sabariah tidak pernah memberitahu tentang siapa keluarga Fanisa. “Ketika saya menanyakan hal itu, Bayah selalu bilang jangan tanya itu, nanti suatu saat kamu pasti tahu sendiri,” kisah Fanisa.

Ketika pertanyaan yang menggayuti pikirannya belum terjawab, tiba-tiba orang yang selama ini menjadi tempat menggantungkan hidup meninggal dunia. “Bayah meninggal tahun 2012 karena penyakit kanker. Sejak saat itu saya tak punya siapa-siapa lagi,” ujar Fanisa dengan suara terbata-bata.

Sepeninggal Bayah, hidup Fanisa mulai kacau. Rumah yang ditempatinya bersama Sabariah pun diserobot oleh keluarga Sabariah di Medan. “Rumah diambil dan saya diusir. Adik Bayah yang di sana itu tidak suka sama saya,” ujar Fanisa.

Selama dua tahun lebih sejak ditinggal mati oleh Sabariah, Fanisa berjuang keras di Kota Medan dengan bekerja di doorsmeer dan penjaga warnet. Hingga suatu hari, ia berjumpa dengan Ida, yang disebutnya sahabat dari mendiang Sabariah. Ida menawarkannya bekerja di sebuah restoran di Malaysia. “Saya mau saja, karena saya butuh uang untuk makan,” ujarnya. Ternyata, kata Fanisa, ia diberikan kepada Elisa, agen TKI di Medan. Selanjutnya Elisa mengirim Fanisa ke Malaysia untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. “Awalnya saya kerja di Rawang, saat itu saya dijual 6.000 ringgit, tapi saya tidak pernah dapat uang dari agen itu. Saya juga sempat kerja di Banting, Malaysia,” sebutnya.

Selama bekerja di Malaysia, Fanisa diperlakukan tidak manusiawi. Gajinya sering diambil oleh agen dan paspornya ditahan. Beruntung, pada 20 November, KBRI di Malaysia mengetahui keberadaan Fanisa.

Pihak KBRI mengetahui ada agen yang memperkerjakan anak di bawah umur dengan memalsukan paspor dan memindai palsu KTP. “Paspor saya dipalsukan, tanggal lahir saya sebenarnya 27-07-1999, tapi di paspor dan KTP saya dibuat 27-07-1996, umur saya dituakan,” ungkap Fanisa.

Kadis Sosial Aceh, Bukhari Aks MM, kepada Serambi menyebutkan, kabar tentang keberadaan anak korban tsunami di Malaysia yang diduga jadi korban trafficking diterima pihaknya sejak beberapa waktu lalu. Selanjutnya, kata Bukhari, atas arahan Gubernur Aceh, ia langsung meninjau ke Malaysia dan ternyata benar seperi yang dilaporkan KBRI.

Akhirnya, semua keperluan untuk membawa pulang Fanisa pun diurus. Dan, pada Jumat kemarin, Fanisa kembali ke Aceh.

“Untuk sementara Fanisa akan kita tempatkan di Rumah Aneuk Nanggroe di Keutapang. Kita juga telah menginformasikan keberadaan Fanisa ke Mon Geudong, Lhokseumawe, namun hingga sekarang belum ada yang mengetahui,” demikian Kadis Sosial Aceh.

Article Tags:
Article Categories:
Nanggroe

Comments are closed.