by

Banjir-Longsor Masih Dera Aceh

-Nanggroe-49 views
PRAJURIT TNI bersama masyarakat melihat luapan air akibat jebolnya tanggul Krueng Pase, di Kecamatan Samudera, Aceh Utara, Sabtu (22/11).SERAMBI/ZAKI MUBARAK
PRAJURIT TNI bersama masyarakat melihat luapan air akibat jebolnya tanggul Krueng Pase, di Kecamatan Samudera, Aceh Utara, Sabtu (22/11).SERAMBI/ZAKI MUBARAK

Atjehcyber.com – Bencana banjir dan tanah longsor masih berlanjut di beberapa wilayah Aceh sebagai dampak hujan deras yang mengguyur sejak tiga hari terakhir. Hingga tadi malam tercatat sejumlah titik longsor dan banjir di beberapa wilayah Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah-Gayo Lues, dan Aceh Utara.

Dari Bireuen dilaporkan, hujan lebat yang mengguyur hingga Jumat (21/11) tengah malam menyebabkan banjir di Kecamatan Pandrah, Simpang Mamplam, Jeunieb, Peulimbang, Peudada, Jeumpa, Kuala, Juli, Kota Juang, Peusangan, Gandapura, dan Makmur.

Banjir di Kota Juang, Juli, Jeumpa, dan Kuala akibat jebolnya tanggul saluran pembuang di beberapa desa seperti Pulo Ara, Geudong-Geudong, dan Geulanggang Gampong Kota Juang. Kondisi sama juga terjadi di Desa Blang Seupeng, Abeuk Usong, Pulo Lawang, Teupok Tunong, Mon Mane, Paloh Seulimeng Jeumpa.

Hingga tadi malam, langit Bireuen masih berbalut mendung. Desa-desa di Kecamatan Kota Juang yang masih tergenang antara lain Pulo Ara, Geudong-Geudong, dan Geulanggang Gampong. Sedangkan di Kecamatan Jeumpa antara lain Desa Teupok Tunong. Sebagian warga yang sempat mengungsi sudah kembali ke rumah namun masih tetap dalam posisi siaga.

Selain banjir, sejumlah titik di Kabupaten Bireuen juga didera longsor seperti ruas jalan ke Desa Pante Peusangan, Kabupaten Juli. Sepanjang dua kilometer ruas jalan desa (berkonstruksi beton) ambruk. Hingga tadi malam, menurut Keuchik Pante Peusangan, Syamsuddin, alat berat masih bekerja di titik longsor. Hujan masih mengguyur.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bireuen, Asmara Hadi mengatakan, sejak Sabtu (22/11) dini hari pihaknya telah membuka posko tanggap darurat di beberapa lokasi banjir dan mengerahkan alat berat ke titik-titik longsor.

Di Kabupaten Aceh Utara, sejumlah desa di Kecamatan Matangkuli, Samudera, dan Tanah Luas, Sabtu (22/11) pagi terendam dengan ketinggian air mencapai satu meter. Penyebabnya karena tanggul Krueng Pase yang sedang diperbaiki jebol sekitar 50 meter pada Sabtu subuh.

Korban banjir luapan Krueng Pase hingga tadi malam masih menempati tenda yang didirikan Polres Lhokseumawe, Kodim 0103, dan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Aceh Utara. “Saya juga mengungsi ke rumah saudara, karena ketinggian air dalam rumah mencapai sepinggang orang dewasa,” kata Keuchik Tanjong Awe, Kecamatan Matangkuli, Jafar kepada Serambi, kemarin.

Selain jebol tanggul Krueng Pase, banjir di Kecamatan Matangkuli juga diakibatkan luapan Krueng Keureuto. Ada 11 desa yang terendam yaitu Tumpok Barat, Meunasah Meuria, Hagu, Alue Thoe, Lawang, Tanjong Haji Muda, Tanjong Tgk Ali, Aluentok, Munye Pirak, Ceubrek, dan Pante Pirak. “Air dalam rumah mencapai satu meter,” kata Keuchik Hagu, M Nasir.

Sedangkan di Kecamatan Tanah Luas, desa yang terendam antara lain Serbajaman SB, Serbajaman Tunong, Blang, Tanjong Mesjid, dan Teupin Me. Namun, sore kemarin air sudah mulai surut.

Di Kecamatan Sawang, rumah milik M Nasir (37) di Desa Lhok Cut ambruk ke sungai setelah 500 meter tebing Krueng Gunci amblas, Sabtu (22/11) dini hari.

Dandim Aceh Utara Letkol Inf Iwan Rusandyanto mengatakan, pihaknya telah memerintahkan personel TNI di jajarannya untuk terus memantau kondisi banjir. Kodim Aceh Utara juga memasang tenda di Kecamatan Samudera dan Matangkuli.

Wakil Ketua DPRK Aceh Utara Abdul Mutaleb mengatakan pihaknya sudah menyalurkan bantuan sembako untuk korban banjir di Kecamatan Samudera yang tinggal di tenda dan menyerukan Pemkab Aceh Utara segera menangani tanggul yang jebol.

Di Kabupaten Pidie Jaya, banjir luapan Krueng Meureudu dan Alue Keutapang yang sempat merendam 53 desa selama 10 jam dilaporkan sudah surut sejak Sabtu (22/11) menjelang subuh.

Wakil Bupati Pidie Jaya, Said Mulyadi kepada Serambi, kemarin mengatakan, ada ribuan rumah dalam 53 desa yang terendam banjir luapan Krueng Meureudu dan Krueng Alue Keutapang.

Selain merendam permukiman, banjir juga mengambrukkan jembatan Alue Keutapang, Kecamatan Bandar Dua, jembatan Gampong Seunong, dan Lhueng Bimba di Kecamatan Meurah Dua. Selain itu, saluran irigasi tersier Pulo Ulim, Kecamatan Ulim juga rusak. “Kita sudah menyalurkan bantuan masa panik untuk 14.000 lebih warga yang jadi korban banjir,” kata Said Mulyadi.

Mengenai korban terseret arus akibat ambruknya jembatan Alue Keutapang, Muktar (42), hingga kemarin masih terus dicari dengan melibatkan tim Tagana, SAR, dan BPBD dari Pidie Jaya dan Pidie.

Pasca-ambruknya jembatan Alue Keutapang, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya memunculkan persoalan serius terhadap masyarakat tujuh gampong di pedalam kecamatan tersebut, yaitu Kumba, Jeulanga, Paya Pisang Klat, Gaharu, Alue Sanee, Alue Mee, dan Jungkon.

“Mereka harus menempuh perjalanan sejauh 4-6 kilometer ke ibu kota kecamatan,” kata Camat Bandar Dua, Pidie Jaya, Badruddin SSos.

Ruas jalan Takengon (Aceh Tengah) ke Blangkejeren (Gayo Lues), tepatnya di sepanjang ruas jalan Ise-Ise, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, sejak Jumat (21/11) malam putus karena tanah longsor menutupi badan jalan. Hingga kemarin sore ruas jalan tersebut dilaporkan belum normal.

Titik longsor berada di antara Kampung Lumut menuju Ise-Ise, Kecamatan Linge. Sejumlah tiang listrik juga tumbang. “Tumpukan tanah yang menimbun badan jalan tidak terlalu tinggi namun tidak bisa dilintasi kendaraan,” lapor Zunaidy, staf Kantor Camat Linge dari lokasi longsor, kemarin.

Wakil Bupati Aceh Tengah, Drs H Khairul Asmara membenarkan longsor di ruas jalan Takengon-Blangkejeren Bireuen. Pihaknya telah memerintahkan dinas terkait mengerahkan alat berat ke lokasi kejadian.

  • Sumber: Serambi Indonesia

News Feed