by

Banjir Rendam 9 Desa di Matangkuli

-Nanggroe-45 views
Desa Hagu Kecamatan Matangkuli Kabupaten Aceh Utara dan sekitarnya terendam banjir akibat meluap air dari Krueng Keureuto, Selasa (11/11) siang.
Desa Hagu Kecamatan Matangkuli Kabupaten Aceh Utara dan sekitarnya terendam banjir akibat meluap air dari Krueng Keureuto, Selasa (11/11) siang.

Atjehcyber.com – Sembilan desa di Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara sejak Selasa (11/11) sekitar pukul 10.30 WIB terendam banjir akibat meluap air Krueng Keureutoe. Banjir terjadi setelah kawasan Bener Meriah diguyur hujan deras pada Senin (11/11) malam, sehingga meluap airnya sungai tersebut.

Amatan Serambi, kesembilan desa yang terendam banjir yaitu Alue Thoe, Tumpok Barat, Hagu, Lawang, Tanjong Tgk Ali, Ceubrek, Tanjong Haji Muda, Munye Pirak, Pante Pirak, dan Desa Me. Banjir terparah terjadi di Alue Thoe, Lawang, Hagu dan Tanjong Haji Muda, dimana air di jalan setinggi lutut orang dewasa. Sedangkan dalam rumah warga di lokasi tertentu airnya mencapai 80 centimeter atau setinggi pinggang orang dewasa. Hal itu menyebabkan warga tak bisa lagi melintasi jalan tersebut.

“Beberapa warga yang melintasi kawasan tersebut harus mendorong sepeda motornya karena air masuk ke mesin,” ujar Keuchik Hagu, M Nasir kepada Serambi, kemarin. Dikatakann, sejumlah warga yang rumahnya terendam air sekitar 80 centimeter mengungsi ke rumah saudaranya. “Tapi, hanya hanya beberapa orang saja. Sampai sekarang (pukul 17.00 WIB) air belum surut dan bisa saja bertambah jika terjadi hujan susulan,” katanya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara Munawar mengatakan, sampai sekarang air belum bertambah dan tidak terlalu parah. “Jika airnya bertambah, kami akan buka posko dan kami juga sudah siapkan speed boat,” katanya.

Dari Bireuen dilaporkan, akibat masih sempitnya saluran pembuang di beberapa kecamatan, sejumlah desa di kabupaten itu terendam banjir. Kawasan itu antara lain Asrama Bataliyon Infanteri (Yonif) 113/Jaya Sakti kawasan Blang Keutumba Juli, Desa Abeuk Usong, Blang Mane, Pulo Lawang, dan Teupok Baroh (Jeumpa), Cot Tunong (Gandapura), dan Meunasah Blang (Kota Juang).

Menurutnya, saat hujan lebat, air tak tertampung di saluran karena masih sempit. Sehingga air melimpah ke permukiman penduduk. Mereka berharap pemerintah segera mengeruk saluran yang sempit tersebut. Sehingga kejadian serupa tak terulang lagi.

Kadis Pengairan Pertambangan dan Energi Bireuen, Ismunandar mengatakan, pihaknya sedang menggeruk beberapa saluran untuk mencegah banjir. “Tapi, masyarakat juga harus mau membersihkan saluran. Jika saluran bersih, air mudah mengalir ke hulu,” katanya. Sementara Bupati Bireuen, Ruslan M Daud mengintruksikan kepada semua camat untuk selalu memantau wilayahnya dari banjir dan mengajak warga membersihkan saluran yang tersumbat.

  • Sumber: Serambi Indonesia

Comment

News Feed