by

Kedua Tangan Pengebom LP Terpaksa Dipotong

-Nanggroe-37 views

a-lhokseumawe-pasca-terjadinya-ledakan-bom-rakitan_20161025_094501

ATJEHCYBER.com – Tim medis Rumah Sakit Kasih Ibu Kota Lhokseumawe, Senin (24/10) terpaksa memotong (mengamputasi) kedua tangan Fauzi, narapidana (napi) Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II Lhokseumawe yang luka parah pascaledakan bom rakitan di LP tersebut, Minggu (23/10) siang. Hal itu dilakukan untuk menyelamatkan organ tubuhnya yang lain agar tidak terinfeksi oleh luka di tangan korban yang jaringannya sudah rusak parah.

Sementara itu, berdasarkan hasil penyelidikan pihak kepolisian, Fauzi telah ditetapkan sebagai tersangka pengebom LP kelas II itu sehari sebelumnya.

Pantauan Serambi, Fauzi dimasukkan ke ruang operasi Rumah Sakit Kasih Ibu sekitar pukul 10.00 WIB. Dia ditangani tim medis yang dipimpin dr M Tambah SpB. Sekitar pukul 13.30 WIB, proses operasinya tuntas. Kedua tangan yang sudah diamputasi itu diserahkan kepada istri Fauzi, Wahyuni.

Dokter Tambah yang ditemui Serambi di depan ruang operasi menyebutkan, kedua tangan Fauzi diamputasi sebatas lengan, karena secara teknis medis memang sudah tak bisa lagi dipertahankan, mengingat kondisi daging dan jaringan ototnya telah hancur dan berwarna hitam (terkena mesiu dan berjelaga).

Selain mengamputasi tangan korban, dokter juga harus menjahit tiga luka besar, masing-masing dua di dahi dan satu di dagu korban. Tim medis juga membersihkan luka-luka di badannya. “Kita perkirakan matanya juga kena serpihan, sehingga pasien harus diperiksa oleh dokter ahli mata. Tapi secara umum kondisinya sudah mulai membaik,” kata Dokter Tambah.

Sementara itu, Kapolres Lhokseumawe, AKBP Hendri Budiman, didampingi Kasat Reskrim AKP Yasir menyebutkan, dalam menindaklanjuti kasus ini pihaknya telah memintai keterangan empat napi sebagai saksi. Tiga di antaranya malah menyatakan bahwa Fauzilah sebagai tersangka pelaku pengeboman itu.

Salah seorang saksi malah ada yang melihat Fauzi membawa rantang plastik. Rantang itu dia letakkan di dekat lokasi ledakan.

Selain itu, ada napi yang melihat, seusai Fauzi meletakkan rantang tersebut, dia pun mengurai tali wayer. Tapi baru sekitar dua atau tiga meter wayer tersebut dia bentangkan, bom rakitan itu pun meledak, sehingga membuat dirinya luka parah.

“Jadi, hasil pemeriksaan sementara, kita menduga aksi pengeboman itu dilakukannya untuk meloloskan diri dari tembok yang berlubang akibat ledakan. Dan itu dilakukan secara tunggal oleh Fauzi,” ujarnya.

Menurut Kapolres, pihaknya masih menunggu pulihnya kesehatan Fauzi untuk dimintai keterangan. Sedangkan satu bom rakitan yang ditemukan dalam LP masih diamankan Tim Penjinak Bom Brigade Mobile (Jibom Brimob) Jeulikat, Aceh Utara. “Kita telah berkoordinasi dengan Tim Labfor Polri Medan, Sumatera Utara, untuk bisa diurai. Tim dari Medan kini sedang meluncur ke Lhokseumawe,” ucapanya.

Terkait asal bom, apakah dirakit dari dalam LP atau dipasok dari luar, belum bisa disimpulkan. Soalnya, sejauh ini belum ada saksi yang melihat kalau korban merakit bom itu di dalam LP. “Asal bom masih terus kita selidiki,” demikian AKPB Hendri Budiman.

Sebagaimana diberitakan kemarin, satu bom rakitan meledak di LP Kelas II Lhokseumawe, Minggu (23/10) sekitar pukul 14.15 WIB. Akibatnya, dua napi luka-luka, salah satunya kritis. Napi yang kritis itu, yakni Fauzi yang diduga sebagai pelaku peledakan. Pria asal Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe itu dipenjara karena terlibat kasus narkoba.

Sedangkan satu napi lagi yang terluka adalah Tarmizi, juga warga Muara Satu, Kota Lhokseumawe. Ia dipenjara karena kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Dia hanya mengalami dua luka kecil di jidatnya.

Polisi juga menemukan satu bom rakitan yang dibuat dari kaleng sarden berdiameter sekitar 10 cm dan panjang 12 Cm. Bom itu ditemukan di dekat lokasi ledakan. (bah/SerambiNews)

Comment

News Feed