by

Soal ‘Pencekalan’ Istri Gubernur Zaini, Ini Kata Imigrasi Banda Aceh

-Nanggroe-499 views

suasana peusijuek mualem-6@ady gondrong

Atjehcyber.com – Setiap Warga Negara Asing (WNA) yang ada di Indonesia harus memperpanjang Izin Tinggal Sementara (ITAS) selama satu tahun sekali dan berlaku sampai enam kali perpanjangan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Seksi Informasi dan Komunikasi Imigrasi Banda Aceh, Heru Pradana kepada atjehpost.co, Jumat malam, 28 November 2014. “Nah mereka harus memperpanjang izin tinggal (ITAS) di tempat berdomisili. Misalnya ia berdomisili di Banda Aceh, pengurusan izinnya ya harus di kantor Imigrasi Banda Aceh,” katanya.

Sementara bagi WNA pemegang Kartu Izin Tinggal Menetap (KITAP) masa berlakunya tidak terbatas. “Cuma setiap lima tahun WNA harus melapor ke Kantor Imigrasi,” katanya. Heru juga menjelaskan tidak ada larangan bagi WNA bekerja di Indonesia untuk menghidupi dirinya pribadi dan keluarga.

Namun, kata Heru, semua hal tersebut harus mengikuti aturan hukum di Indonesia termasuk UU Keimigrasian. “Hal ini termasuk mendirikan atau membeli property di Indonesia. Jadi harus ada catatan dari pihak imigrasi.

Sementara mengenai pembolehan bekerja tersebut sudah diatur dalam UU Nomor 6 tahun 2011 Pasal 21, yang isinya adalah seseorang yang kawin secara sah dengan WNI boleh melakukan usaha di Indonesia. Tapi catatanya, selama kawin secara sah ya. Kalau kawin tidak sah, itu yang gak boleh, ada aturan lain itu,” katanya.

Saat disinggung tentang status pencekalan keluar negara yang dialami Niazah A. Hamid, istri Gubernur Aceh Zaini Abdullah, Heru mengatakan, “kalau itu masalahnya beliau habis masa exit (izin keluar). Izinnya itu belum diperpanjang.” Mengenai hal ini, Heru mengatakan izin keluar bisa langsung diberikan saat WNA meminta untuk diperpanjang.

Menurutnya, izin keluar tersebut harus diurus di tempat WNA berdomisili selama di Indonesia. “Jadi kalau dia berdomisili di Banda Aceh, ya harus mengurus izin keluar di Imigrasi Banda Aceh.

Kalau dulu ada itu emergency exit di setiap bandara di Indonesia, sekarang tidak ada lagi. Tapi khusus untuk pengurusan izin keluar ini bisa diwakili oleh orang lain karena foto WNA-nya sudah ada di kantor imigrasi,” ujarnya. Sebelumnya diberitakan, istri Gubernur Aceh Zaini Abdullah, Niazah A. Hamid, sejatinya pada Rabu malam, 26 November 2014, hendak terbang ke Swedia melalui Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Namun, langkah Niazah yang warga negara Swedia itu terhadang lantaran masa berlaku izin tinggalnya telah kadaluarsa. “Ummi Niazah harusnya berangkat ke Swedia tadi malam pukul 12.

Namun tidak bisa karena izin tinggalnya sudah habis. Kalau memaksa keluar, tidak bisa masuk lagi ke Indonesia,” kata sumber atjehpost.co di lingkaran dalam Gubernur Zaini, 27 November 2014. Walhasil, Niazah urung berangkat dan harus mengurus kembali izin tinggal di Indonesia. Rencananya, Niazah didampingi Muzakkir A. Hamid, adik kandungnya yang juga sebagai staf khusus Gubernur Aceh.

Istri Muzakkir Hamid yang juga ajudan Niazah, turut serta mendampingi. Niazah A. Hamid adalah warga negara Swedia. Wanita kelahiran Pidie 15 Oktober 1946 itu beralih kewarganegaraan sejak berangkat ke Swedia menyusul suaminya pada 1983.

Ketika Zaini Abdullah kembali menjadi Warga Negara Indonesia setelah perjanjian damai, Niazah tetap berstatus warga negara Swedia. Meski berstatus warga Swedia, saat ini Niazah Hamid menduduki posisi sebagai Ketua PKK Aceh, Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Aceh yang pendanaan berasal dari APBA. Padahal, secara hukum orang asing dilarang menggunakan fasilitas dan keuangan negara.

Niazah A. Hamid sudah beberapa hari  berada di Jakarta. Di sana, ia menginap di hotel bintang lima Saripan Pacific Hotel. Padahal, pemerintah Aceh punya Hotel Kutaraja di Jakarta. Niazah akhirnya bisa kembali ke negara tempat ia tercatat sebagai warga negara pada Kamis malam, 27 November 2014.

Ia berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta ditemani adik kandungnya yang juga staf khusus Gubernur Zaini, Muzakkir A. Hamid beserta istrinya yang juga adalah ajudan Niazah. “Ibu berangkat tadi malam sekitar pukul 12.00 WIB melalui bandara Soekarno-Hatta Tangerang,” kata orang yang selama ini dekat Niazah di Jakarta, Jumat, 28 November 2014.

Sebelum berangkat Niazah mengumpulkan staf Perwakilan Aceh di Jakarta. Ia murka lantaran kasus yang menghadangnya bocor ke media. “Habis kami disemprot tadi malam dan diancam akan ditindak kalau ada kejadian begini lagi.” kata sumber itu.

  • Sumber: Atjehpost.co

News Feed