by

VIDEO: Puisi Azimar, Istri Janda Mantan Perdana Menteri GAM

Atjehcyber.comAzimar (71), janda dr Muchtar Hasbi DTMH, mantan perdana menteri Aceh Merdeka, tak kuasa menahan air mata, saat membacakan puisi tentang almarhum suaminya. Puisi itu, mengawali acara bedah draft buku “Perjuangan Janda Mantan PM Aceh Merdeka” di Museum Safwan Idris, Kampus UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh, Sabtu (15/11/2014) siang.

Buku ini merekam kisah nyata, tentang kehidupan gadis dan pemuda Aceh, yang menjalin cinta dan membina rumah tangga pada masa-masa peralihan dua konflik besar di Aceh, yaitu akhir pergolakan DI TII dan awal pecahnya pemberontakan Aceh Merdeka.

Kini kau telah tiada

Hidup hampa tak pernah kucerita
Kami hidup dengan titipanmu bertiga
menghirup udara 
Rizki di cakrawala

Nikmat-Mu telah Kau cabut oh Tuhan
Kasiku….. Kasihku
Syahidmu membuatku kuat
Hidup bersamamu hanya sesaat
Aku tetap di lingkaran nasihatmu

Ketiadaanmu bagiku bagaikan mimpi
Titipan anak yatim kupikul rapi
Allahu Rabbi
Bagai bergantung tak bertali

Buku ini merekam kisah nyata, tentang kehidupan gadis dan pemuda Aceh, yang menjalin cinta dan membina rumah tangga pada masa-masa peralihan dua konflik besar di Aceh, yaitu akhir pergolakan DI TII dan awal pecahnya pemberontakan Aceh Merdeka.

Sang gadis Azimar (penulis yang pada tahun 2014 berusia 71 tahun), memulai kisah tentang awal mula perkenalannya dengan Muchtar Y Hasbi, seorang pemuda asal Geudong, Aceh Utara yang sedang menempuh kuliah di Fakultas Kedokteran USU, Medan.

Setelah menikah, keduanya sempat hidup bersama selama 9 tahun (1968-1977). Pasangan ini memiliki segala-galanya untuk masuk kategori keluarga bahagia. Sang suami (dr. Muchtar) adalah seorang PNS pada Fakultas Kedokteran USU sementara istrinya (Azimar) yang merupakan alumni sekolah bidan di Kutaraja (sekarang Banda Aceh) tercatat sebagai PNS pada Dinas Kesehatan Tingkat I Provinsi Sumatera Utara.

Setelah pulang dari pekerjaan sebagai PNS, pada sore hari, pasangan ini juga membuka klinik praktek dokter umum di Jalan Puri, Kecamatan Medan Area, Kota Medan.

Namun, takdir akhirnya memisahkan mereka, ketika dr. Muchtar meninggalkan semua kehidupan materi, istri, dan tiga putranya yang masih kecil, untuk berjuang ke Aceh, tanah kelahiran dan tumpah darahnya.

Sekitar tiga tahun lamanya, Azimar hidup tanpa mengetahui keberadaan sang suami yang merupakan ayah dari anak-anaknya. Hingga, pada tanggal 13 Agustus 1980 datang kabar bahwa suaminya tertangkap, yang sejatinya telah syahid, dalam pertempuran di Pulo Tiga, Aceh Timur (sekarang Aceh Tamiang).

Bagaimana hari-hari selanjutnya kehidupan Azimar dan tiga anaknya yang masih kecil? Ikuti selengkapnya berdasarkan kisah nyata dalam buku ini.

  • Sumber: Serambi Indonesia/Glaour Pro (Youtube Channel)

News Feed