by

Ahok, Jokowi, dan Kamar Mandi yang Basah

-Nasional-211 views

103047020140227-094742-resized780x390

Atjehcyber.com – Pada sebuah kesempatan, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kedatangan sejumlah siswa sekolah dasar (SD) yang menjadi delegasi Konferensi Anak Indonesia 2014. Ahok menerima mereka di Balairung Balaikota, Jakarta. Salah seorang anak itu bertanya, “Pak Ahok, kenapa WC di Jakarta basah semua?”

Spontan Ahok tertawa mendengar pertanyaan itu. Kepada para siswa sekolah dasar itu, Ahok mengaku secara jujur bahwa toilet di Balaikota Jakarta yang menjadi kantornya joroknya minta ampun. Tidak hanya jorok, menurut dia, tisu toilet di gedung pusat pemerintahan Kota Jakarta yang notabene adalah ibu kota Republik Indonesia sering hilang dicuri.

“WC di kantor ini saja joroknya luar biasa, basah semua. Pas saya cari tisunya di mana, ternyata tisunya juga pada dicolongin. Bapak juga kesel banget kalau lagi buang air, ternyata toiletnya basah, lantainya basah, banyak tisu berserakan,” jawab Basuki.

Toilet kering

Lantai toilet di Balaikota Jakarta basah bukan karena tidak ada yang membersihkan, tetapi karena banyak pegawai di kantor itu—dan juga karena tradisi toilet di Indonesia—tidak memiliki budaya toilet kering.

“Saya juga pernah pinjami WC di ruangan saya untuk staf saya. Setelah itu, ternyata kloset saya basah, masak kotoran dia saya yang bersihin. Habis itu, saya enggak mau WC saya dipakai lagi,” cerita Basuki.

Toilet kering identik dengan kloset duduk, berbeda dengan toilet basah yang identik dengan kloset jongkok. Soal bentuk kloset ini, tak sedikit masyarakat kita yang mengalami gagap budaya.

Saat harus buang air besar di toilet umum dan mendapati kloset duduk, tak sedikit yang memilih tetap jongkok di atas kloset duduk. Sampai-sampai ada peringatan di dinding toilet: “Dilarang Jongkok, Nanti Jatuh”.

Toilet kering seharusnya menjadi standar toilet di Indonesia. Kebanyakan toilet di Indonesia, baik toilet umum maupun toilet di rumah, adalah basah. Padahal, toilet basah kurang bersahabat dengan kesehatan dibanding toilet kering.

Toilet basah tidak menguntungkan karena tingginya kelembaban di Indonesia. Spora dan jamur mudah tumbuh di toilet basah. Kuman dan bakteri juga dapat berkembang subur. Ujung-ujungnya, toilet basah yang lembab bisa menjadi sumber penyakit.

Kebersihan toilet umum di Indonesia masih buruk. Indonesia pernah dianugerahi peringkat ke 12 terburuk toilet umum dari 18 negara di Asia.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNGSebuah WC umum yang sempit di antara warung-warung kawasan Terminal Pulogandung, Jakarta Timur.

Sanitasi buruk

Untuk “urusan ke belakang”, catatan Indonesia memang jauh dari menggembirakan. Jangankan bicara soal toilet kering, bicara buang air besar saja Indonesia punya pekerjaan rumah serius.

Menurut laporan bersama WHO dan Unicef pada Mei 2014, untuk persoalan sanitasi, Indonesia menempati peringkat kedua terburuk di dunia. Menurut laporan itu, masih ada 54 juta masyarakat Indonesia yang buang air besar (BAB) sembarangan di sungai, laut, atau di permukaan tanah.

Peringkat pertama adalah India. Sebanyak 597 juta orang di negeri itu buang hajat sembarangan. Di bawah Indonesia adalah Pakistan (41 juta), Nigeria (39), Etiopia (34), Sudan (17), Niger (13), Nepal (11), China (10), dan Mozambik (10).

Melihat catatan tersebut, untuk urusan buang hajat, perilaku masyarakat Indonesia adalah paling buruk dibanding negara-negara tetangga di Asia Tenggara yang tidak masuk dalam 10 besar.

Dari angka 54 juta itu, satu juta di antaranya adalah warga Jakarta. Di Jakarta yang gemerlap dengan gedung-gedung tinggi dan roda ekonomi yang berputar cepat, masih ada yang buang hajat sembarangan.

Kerugian Rp 56 triliun

Persoalan “pergi ke belakang” yang tidak sehat ini urusannya panjang karena berdampak pada kerugian ekonomi. Menurut kajian Bank Dunia pada 2006 mengenai air dan sanitasi, kerugian yang dialami Indonesia karena sanitasi yang buruk mencapai Rp 56 triliun. Angka itu setara dengan 2,3 persen produk domestik bruto (PDB).

Menurut studi itu, sekitar 100 juta orang di Indonesia belum mendapat akses pelayanan sanitasi dasar yang sehat dan layak. Jumlah itu termasuk mereka yang buang air besar (BAB) secara sembarangan, seperti di sungai, ladang, kolam, atau di jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan.

Jamban yang tidak memenuhi syarat adalah kotoran di bak penampungan berpotensi merembes sehingga mencemari sumber air tanah atau sungai. BAB sembarangan berdampak pada pencemaran terhadap sumber air tanah atau sungai oleh bakteri E-coli.

Jika air yang sudah tercemar E-coli dikonsumsi manusia, maka akan menyebabkan penyakit diare. Penyebaran E-coli inilah yang efek berantainya sampai memunculkan angka Rp 56 triliun di Indonesia.

KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNAAnak-anak bermain di toilet umum yang terdapat di kawasan Waduk Ria Rio, Pedongkelan, Jakarta Timur. Foto diambil bulan Agustus 2008. Di Jakarta, satu juta orang masih buang air besar sembarangan di sungai, laut, atau di permukaan tanah.

Perilaku masyarakat

Akar dari masalah sanitasi di Indonesia adalah perilaku masyarakat. Presiden Joko Widodo yang menginisiasi program kampung deret saat menjadi Gubernur DKI Jakarta mengatakan tidak mudah mengubah perilaku masyarakat. Program kampung deret adalah cara Jokowi memperbaiki sanitasi masyarakat perkotaan secara komprehensif.

“Kampung deret itu kan kampungnya diperbaiki, rumahnya diperbaiki, drainase diperbaiki, ada communal septic tank di situ, hijauan di situ. Memang yang paling sulit adalah mengubah budaya masyarakat yang biasanya buang sampah sembarangan, BAB sembarangan, menaruh jemuran sembarangan, harus diubah. Tapi kan mengedukasi di situ yang paling sulit,” kata Jokowi seperti dikutip Berita Jakarta.

Program kampung deret tak lantas selesai dengan berdirinya rumah-rumah baru. Pekerjaan rumah yang paling besar adalah mengubah perilaku mereka yang tinggal di sana.

Saat mengunjungi pernikahan warga di kampung deret di Pejompongan, beberapa waktu lalu, Basuki mengeluhkan sikap warga yang terbiasa hidup kotor. Di kampung yang cat tembok rumah warganya masih baru itu, ia mendapati saluran air yang terhambat sampah warga.

Yang kencing sembarangan

Oleh karena itu, revolusi mental yang digaungkan Jokowi tidak melulu dimaknai terkait urusan mental koruptif, kejujuran, kerja keras, atau metode pendidikan yang salah kaprah di negeri ini. Urusan “buang hajat dengan benar”, toilet yang bersih, dan perilaku hidup yang higienis, juga patut dimaknai sebagai bagian dari revolusi mental.

Soal perilaku masyarakat ini, Zuhruf, seorang siswa SD berusia 10 tahun yang hadir dalam pertemuan dengan Basuki di Balaikota, mengajukan pertanyaan, “Apa yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk mengantisipasi warga yang gemar buang air sembarangan?”

Mendapat pertanyaan ini, Basuki kembali tertawa. Basuki lalu menceritakan pengalamannya ketika mengunjungi kawasan Kota Tua di Jakarta Barat.

“Saya juga bingung kenapa orang-orang banyak yang berani sembarangan kencing sembarangan di Gedung Kota Tua, baunya pesing banget. Nanti kami pasang tulisan, ‘Yang kencing sembarangan di sini anjing’, atau ‘Yang buang sampah sembarangan monyet’,” kata Basuki tertawa.

  • Sumber: Kompas.com

Comment

News Feed