by

Islam, Jenggot, dan Kumis

-Opini-1,121 views

Oleh Nab Bahany As

SUATU ketika di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, pernah diadakan semacam kontes atau perlombaan; bagi mahasiswa yang jenggotnya panjang, rapi dan indah akan diberikan beasiswa oleh universitas. Sehingga waktu itu para mahasiswa Universitas Al-Azhar berlomba-lomba memelihara jenggotnya, dengan harapan mereka dapat terpilih menjadi katagori jenggot terpanjang dan terindah untuk mendapat beasiswa dari universitas.

Perkara jenggot ini mengingatkan saya pada sebuah buku kumpulan Senda Gurau Orang-orang Terkenal di Dunia, yang ditulis Suetoyo M.D (1990). Dalam buku humor orang-orang terkenal di dunia ini, satu ceritanya adalah tentang sebuah pertemuan yang dihadiri Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim.

Sebelum acara dimulai, pada saat Tjokroaminoto memasuki ruangan pertemuan, tiba-tiba seorang yang ikut dalam pertemuan itu langsung berdiri dan bertanya, “Siapa yang punya kumis, tapi tak punya jenggot?”. Pertanyaan orang itu langsung dijawab serentak oleh sebagian hadirin, “kucing”. Jawaban ini dialamatkan pada Tjokroaminoto karena beliau berkumis, tapi tidak berjenggot.

Kemudian Haji Agus Salim pun memasuki gedung pertemuan. Beriringan dengan itu orang tadi kembali berteriak dengan pertanyaan, “Siapa yang punya jenggot, tapi tidak punya kumis?”. Pertanyaan ini juga dijawab serentak oleh sebagian hadirin, “kambing”. Jawaban itu jelas tertuju pada Haji Agus Salim, karena beliau memiliki jenggot, tapi tidak punya kumis.

Setelah itu, dengan penuh wibawa Haji Agus Salim dipersilahkan naik ke podium untuk berpidato. Namun sebelum memulai pidatonya, Agus Salim lebih dulu bertanya, “Siapa yang tidak punya kumis dan tidak punya jenggot?”. Petanyaan Haji Agus Salim ini tidak ada yang menjawab, semua hadirin terdiam. Karena tak ada yang menjawab, maka Haji Agus Salim sendiri yang langsung memberitahukan jawabannya. “Yang tidak punya kumis dan tidak punya jenggot adalah anjing,” katanya yang membuat seluruh hadirin serentak tertawa mendengar jawaban itu.

Sindiran diplomasi
Begitulah cara “orang besar” berdiplomasi dalam sebuah forum ketika menyikapi munculnya sidiran yang dialamatkan kepadanya. Mungkin Haji Agus Salim tidak bermaksud mengalamatkan jawaban “anjing” atas pertanyaannya itu kepada orang yang berteriak kambing atau yang mengembek-embek tadi. Tapi karena orang yang bertanya dengan setengah berteriak itu kebetulan tidak berjenggot dan berkumis, maka ia merasa telah dipojokkan oleh Haji Agus Salim dengan menyebutkan “anjing”, karena ia tidak berjenggot dan berkumis.

Bila sekali waktu Anda berlibur ke Bangkok, Thailand, di pinggiran ibu kota negara itu ada satu daerah bernama Kaewnimit. Daerah ini merupakan sebuah pemukiman komunitas Islam terbesar di Thailand setelah Pattani. Semua laki-laki komunitas muslim yang mendiami Kaewnimit ini hampir tidak ada yang tidak berjenggot. Pemerintah Thailand tidak melarang mereka untuk memelihara jenggot.

Sebagian besar komunitas muslim di Kaewnimit ini berprofesi sebagai petani dan peternak. Pemerintah Thailand sangat terbantu dengan adanya komunitas Islam di Kaewnimit ini, karena mereka dapat menyuplai kebutuhan daging dan hasil pertaniannya untuk masyarakat kota Bangkok dari hasil peternakan dan pertanian mereka.

Uniknya, kehidupan komunitas Islam di Kaewnimit ini, jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki. Karena itu, berpoligami bagi mereka adalah sebuah keyakinan mengikuti sunnah Rasul. Demikian pula cara mareka makan, dalam satu talam makanan, mereka bisa makan secara bersamaan lima sampai sepuluh orang.

Cara makan seperti itu juga mereka yakini sebagai bagian dari kebiasaan Rasulullah yang harus mereka teladani. Apakah kebiasaan Rasulullah itu dalam bentuk darurat –seperti dalam peperangan– yang butuh sekadar makan bersama pasukannya dalam satu tempat. Ini tidak dipersoalkan, yang penting mereka meyakini sudah menjalankan sunnah rasul.

Saya mengalami hal itu ketika menghadiri Pertemuan Ulama Pondok se-Asia Tenggara di Selangor, Malaysia. Pada malam penutupan pertemuan, semua undangan dijamu dengan cara makan bersama dalam satu talam. Setiap porsi talam yang dihidangkan bisa kita makan 7-10 orang, dengan cara duduk melingkar menghadap makanan dalam talam tersebut.

Semua ulama yang hadir dalam pertemuan itu hampir tidak ada yang tidak berjenggot. Keutamaan memelihara jenggot bagi para ulama ini mungkin didasarkan pada beberapa hadis yang menyuruh umat Islam (laki-laki) untuk memanjangkan jenggotnya dan mencukur kumisnya.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda: “Guntinglah kumismu dan tumbuhkan jenggotmu, karena dengan demikian kamu menentang kaum Majusi (penyembah api),” kata Rasulullah dalam Shahih Muslim.

Dalam hadis lain yang dikutip Maulana Muhammad Zakaria (2001) dalam kitab Musttafaq Alaih-Misykat, hal. 380, Ibnu Umar ra mengatakan, Rasulullah bersabda, “Tantanglah orang-orang musyrik dengan memanjangkan jenggotmu dan menggunting kumismu.”

Jenggot dan kumis keduanya memberikan perlambangan bagi seorang laki-laki. Bila laki-laki tidak berjenggot dan berkumis terkadang disebut banci. Namun antara jenggot dan kumis, dalam Islam mana yang harus lebih diutamakan; apakah kumisnya atau jenggotnya yang harus dipelihara?

Dua hadis di atas mengimformasikan, bahwa memelihara jenggot lebih diutamakan dalam Islam dari pada memelihara kumis. Hal ini juga ditegaskan dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Turmizi dan Nasai. Rasulullah bersabda, “Barang siapa tidak menggunting kumisnya, maka dia bukanlah dari golongan kami.”

Untuk mengetahui kenapa kaum laki-laki dalam Islam disuruh memelihara jenggot dan menggunting kumis. Jawabannya, karena ada hadis dari riwayat Abu Hurairah ra yang menyebutkan Rasulullah bersabda, “Bahwa di antara fitrah Islam adalah mengguntingkan kumis dan memanjangkan jenggot, karena sesungguhnya orang-orang Majusi memanjangkan kumis mereka dan mencukur jenggotnya. Maka berbedalah kalian dari mereka dengan cara mengguting kumis dan memanjangkan jenggotmu.”

Menurut hadis ini kalau ditafsirkan, maka jawaban yang kita temukan mengapa Islam lebih mengutamakan jenggot dari pada kumis adalah untuk membedakan umat Islam dengan orang-orang yang beragama Majusi. Karena ada hadis yang menyatakan, “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka akan dianggap sebagai kaum itu.”

Islam itu indah
Lalu apakah orang yang memelihara kumis dan mencukur jenggot ini ikut berdosa? Saya tidak cukup ilmu untuk memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Yang saya tahu, Islam adalah agama yang paling indah. Seperti dikatakan Rusulullah saw, “Sesungguhnya Allah itu indah, dan sangat menyukai pada keindahan.” (Hadis). Jadi, sejauh kumis itu terurus dan terawat rapi hingga terkesan indah dan bersih, tidak menjijikkan, saya kira tak ada persoalan.

Memang ada kisah yang menyebutkan, suatu ketika dua orang utusan Raja Kisra datang menghadap Rasulullah dengan kumis mereka yang tebal panjang, sedang jenggotnya telah dicukur bersih. Nabi bertanya: “Siapa yang menyuruh kalian berbuat seperti itu?” (maksud Nabi mengapa mereka mencukur jenggotnya sampai habis). Kedua utusan Raja Kisra menjawab: “Tuhan kami Raja Kisra memerintahkan kami seperti ini”. Lalu Rasulullah bersabda: “Tetapi Tuhanku memerintahkanku agar menumbuhkan jenggot dan mengguntingkan kumisku,” kata Nabi.

Hadis ini mengindikasikan bahwa dalam Islam juga tidak ada larangan memakai kumis, sejauh kumis itu selalu digunting rapi agar terlihat indah. Hal ini juga didukung oleh pendapat para ulama yang menyatakan bahwa apa saja yang penjang melebihi genggaman tangan hendaknya harus dipotong. Panjang yang dimaksudkan di sini adalah bulu yang tumbuh pada bagian anggota tubuh, terutama jenggot yang batas guntingannya bila sudah melebihi genggaman tangan.

Dari dialog Rasulullah dengan dua utusan Raja Kisra itu, kita ketahui bahwa Rasulullah sendiri menumbuhkan jenggotnya dan menggunting kumisnya. Malah bekas jenggot Rasulullah sampai saat ini masih dapat dilihat di Museum Topkapi Istanbul Turki, sebagai Museum terlengkap di dunia dalam menyimpan berbagai atribut sejarah peninggalan Islam, termasuk atribut peninggalan Rasulullah saw; mulai dari pedang bersarung emas dan permata yang pernah dipakai Nabi, sampai jenggot dan gigi Nabi masih tersimpan utuh di sebuah ruangan khusus dalam Museum Topkapi Istanbul, Turki. Nah!

Nab Bahany As, budayawan, tinggal di Banda Aceh. Email: [email protected]

Serambi Indonesia

Comment

News Feed