by

Jangan Malu Berbahasa Aceh

-Opini-329 views

am-aksi-tersebut-mereka-ju

ATJEHCYBER.com – Seraya mengenang dan memperingati bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda tahun ini, yang sudah dihelat pada 28 Oktober lalu, kita patut bersyukur, pemuda Indoneisa telah bersumpah berbahasa satu bahasa Indonesia. Sehingga saat ini bangsa Indonesia mempunyai bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia juga menjadi identitas bangsa Indonesia.

Hal tersebut sesuai dengan ungkapan “bahasa menujukan bangsa”. Melalui bahasalah kita akan mengenal berbagai suku bangsa. Oleh karena itu, kita patut berbangga telah mempunyai bahasa persatuan, sehingga bangsa Indonesia akan mudah diindentifikasi oleh berbagai suku bangsa di dunia.

Indonesia dikenal mempunyai berbagai suku bangsa dan bahasadaerahnya, di antaranya suku Aceh, Gayo, Alas, Jawa, Batak, Madura, Minang dan lainnya. Suku-suku tersebut mempunyai Bahasa Ibu/Bahasa Pertama (B1)-nya. Negara kita memberi kebebasan untuk menggunakan B1, bahkan diakui sebagai aset bangsa yang harus dipelihara. Hal tersebut jelas tercermin dalam penjelasan UUD 1945, yang dinyatakan bahasa daerah sebagai salah satu unsur kebudayaan Nasional perlu dipelihara dan dikembangkan (Mahsun, 2003:41).

Selain itu, dalam Politik Bahasa disebutkan bahwa bahasa daerah berfungsi sebagai: (1) lambang kebanggan daerah, (2) lambang identitas daerah, (3) alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat daerah, (4) sarana pendukung budaya daerah dan bahasa Indonesia, serta (5) pendukung sastra daerah dan sastra Indonesia (Alwi, 2003: 233-234).

Dengan demikian, bahasa dan budaya daerah yang berkembang pada masyarakat itu semua mengarah pada budaya Nasional yang perlu dipelihara, dan budaya yang berasal dari bahasadaerah tersebut merupakan kebanggaan dari penutur bahasatersebut.

Tak perlu malu
Berdasarkan UUD dan Politik Bahasa tersebut di atas, patutlah kita tanamkan kepada generasi sekarang tak perlu malu berbahasa daerah. Khususnya generasi suku Aceh “Jangan Malu Berbahasa Aceh”. Bahasa Aceh (bahasa daerah) merupakan satu bahasa daerah di Indonesia yang dijamin oleh negara untuk digunakan sebagaimana disebut Alwi, 2003. Bahasa Aceh merupakan bahasa yang yang telah digunakan berabad-abad lamanya oleh pendahulu kita. Mereka telah menggunakan bahasa Aceh dalam berbagai kepentingan, baik sebagai lambang kebanggaan daerah, lambang identitas daerah, alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat daerah, sarana pendukung budaya daerah dan bahasa Indonesia, serta pendukung sastra daerah dan sastra Indonesia.

Sudah saatnya masyarakat untuk menyadari bahwa bahasa Aceh harus digunakan, dipelajari dan diajarkan kepada anak cucu kita. Jika tidak, bahasa Aceh akan punah/tidak ada lagi yang mampu menggunakan lagi pada 20 tahun yang akan datang. Hal ini diperkirakan karena pada kenyataannya masyarakat Aceh pada saat ini cenderung mengajarkan bahasa Indonesia sejak balitanya mulai belajar berbicara.

Ajarkanlah bahasa Aceh sebagai bahasa pertama (B1), secara alamiah anak-anak Aceh akan belajar bahasa Indonesia ketika dia mulai belajar secara formal di sekolah. Tidak perlu ditakuti kalau anak kita tidak bisa berbahasa Indonesia, karena bahasa Indonesia diajarkan di sekolah sejak pengenalan abjad pertama.

Hal yang perlu kita sesali lagi, remaja Aceh, baik di gampong-gampong, di pesantren atau dayah-dayah, akhir-akhir ini cendrung berbahasa Indonesia. Apalagi di kampus dan di pasar-pasar, baik penjual atau pembeli yang sama-sama berbahasa Ibu bahasa Aceh, mereka cendrung menggunakan bahasa Indonesia. Bukan tidak boleh menggunakan bahasa Indonesia, tapi jangan tinggalkan/jangan lupakan bahasa Aceh sebagai aset daerah dan aset Nasional, yang justru mendukung perkembangan bahasa Indonesia.

Suku Aceh patut berbangga dengan bahasa Acehnya. Bahasa Aceh telah mempunyai kelengkapan tata bahasa dan karya sastra yang luar biasa. Bila ditinjau dari tata bahasa, bahasa Aceh mempunyai tata bahasa tersendiri. Bahasa Aceh mempunyai ketentuan tata bahasa pada setiap tataran tata bahasa, baik pada tataran fonologi (bunyi bahasa), pada tataran morfologi (proses pembentukan kata), dan pada tataran sintaksis (tata pembentukan kalimat).

Telah dikenal
Bila ditinjau dari segi karya sastra, sastra Aceh telah dikenal di berbagai penjuru dunia sejak masa kejayaan Sultan Iskandar Muda. Tidak dapat dipungkiri, kalau sastra Aceh yang mempunyai nilai-nilai yang sangat tinggi, di antaranya Hikayat Prang Sabi, Hikayat Gumbak Meuh, Hikayat 1001 Malam, dan hikayat-hikayat lainnya yang kini lebih banyak didokumentasikan di Leiden, Belanda.

Satu hal lagi yang sangat perlu dicermati, kalau bahasa Aceh mempunyai ketentuan penulisan fonetik atau penggunaan tanda diakritik dalam penulisan berbagai kata, yang dapat membedakan makna kata yang satu dengan kata yang lainnya, seperti böh (buang), bôh (buah). Tanda-tanda diakritik itu telah menyejajarkan bahasa Aceh dengan beberapa bahasa dunia seperti bahasa Italia, bahasa Turki, dan bahasa Prancis.

Penggunaan tanda diakritik dalam bahasa Aceh sudah dikuatkan kembali oleh Tim Perumus Bahasa Aceh pada Kongres Budaya di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) pada 9 Desember 2015 yang digagas oleh Dr Farhan Hamid. Tim perumus itu terdiri dari berbagai kalangan dan pakar Bahasa/Sastra Aceh, di antaranya Dr A Gani Asyik MA, Dr Wildan MPd, Dr Rajab Bahry MPd, Dr Mohd Harun MPd, Dr Abdul Rani, Drs Abdullah Faridan, Drs Razali Cut Lani, Drs Saifuddin Mahmud MPd, Ayah Panton, dan Dra Rostina Thaib MHum.

Dan, yang cukup mengembirakan masyarakat Aceh, Rektor Unsyiah sudah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) panitia pembentukan Program Studi Bahasa Aceh di Unsyiah yang diketuai oleh Dr Wildan MPd. Mudah-mudahan dengan terbentuknya Program Studi Bahasa Aceh di Unsyiah, bahasa Aceh sudah dapat dikembangkan secara akademik.

Berdasarkan fakta-fakta eksistensi bahasa Aceh di Aceh pada saat ini, perlu kita kuatkan bahwa generasi muda Aceh jangan malu berbahasa Aceh. Bahasa Aceh, bahasa yang mempunyai tata bahasa yang lengkap, mempunyai karya sastra yang besar, mempunyai tata penulisan yang sejajar dengan beberapa bahasa besar di dunia, dan mempunyai masa kejayaan yang termasyur di semenanjung khatulistiwa. Nah!

* Armia, S.Pd., M.Hum., Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (FKIP Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Email: [email protected]

Comment

News Feed