by

RUMUS BALIK MODAL PARA PEBISNIS JABATAN

Dalam memulai sebuah bisnis hal yang paling utama harus dimiliki adalah modal. Modal sendiri terbagi dalam beberapa kategori yaitu uang tunai, modal kepercayaan, modal lobi dan berbagai kategori modal lainnya. Walaupun modal itu bentuknya berbeda-beda tapi fungsi sama yaitu untuk Mendapatkan barang atau benda yg akan diperjualbelikan kepada orang lain dengan tujuan dapat mengembalikan modal (Break Event Point) secepatnya lalu mengambil keuntungan.

 

Hampir dalam setiap buku pelajaran ekonomi dijelaskan bahwa berbisnis adalah langkah menempatkan diri dalam posisi mencari keuntungan diawali dengan mengucurkan modal baik modal uang tunai maupun modal tenaga/jasa. Tidak pernah kita jumpai dalam literatur manapun di seluruh dunia ini yang menjelaskan pengertian bisnis adalah usaha untuk menempat diri pada posisi/jabatan tertentu dalam pemerintahan dengan modal uang tunai,kepercayaan, mapupun lobi untuk tujuan dapat mengembalikan modal dan mendapatkan keuntungan dalam masa periode tertentu. Walapun sama-sama mengeluarkan modal tapi mendapatkan jabatan bukanlah lahan bisnis untuk mencari keuntungan pribadi, tapi sayangnya itulah yang terjadi dihampir seluruh daerah di negara kita ini.

 

Jika kita harus jujur bisnis jabatan ini adalah penyakit paling kronis yang sedang merongrong setiap jengkal hak-hak warga kita, dimana para pelakunya adalah pasangan-pasangan calon yang yang salah satunya akan mendapatkan posisi jabatan sebagai pemimpin dalam wilayah tertentu. Sebelum mendapatkan posisi jabatan mereka dipaksa untuk berjudi dengan nasibnya sendiri untuk melawan calon pasangan lainnya dan sayangnya hanya ada satu pemenang dalam perjudian ini berapapun jumlah pesertanya. Sudah barang tentu pihak yang kalah tidak akan mendapatkan kembali modal yang sudah dikeluarkan selama ini karna tidak ada satu asuransi pun yang menyediakan premi pertangungan pengembalian dana kampanye bagi pasangan yang kalah.

 

Ini adalah pertarungan antara para calon pebisnis, bisnis yang paling menggiurkan sampai saat ini bahkan pesertanya saja harus orang-orang dengan modal kuat baik modal uang, ketenaran bahkan modal tipu sana tipu sini juga kadangkala harus diselipkan sebagai pemanis dagangan. Tak heran dalam perhelatan pencarian sang pemenang kita melihat tindakan-tindakan yang tidak fair bahkan anarkis, sebegitu menariknya bisnis ini hingga segala cara ditempuh demi menjadi sang juara termasuk membenamkan kepala teman sendiri kedalam air hingga ia kehabisan nafas dan gagal dalam persaingan perebutan lahan bisnis ini.

 

Kitapun bagai terhipnotis dan tidak sadar bahwa modal para calon uang tunai pengusaha ini adalah uang para calon korbannya sendiri yaitu kita sebagai pemilih mereka. Sebenarnya kita sendiri tau dan sadar tapi tidak bisa berbuat apa-apa persis seperti kerbau tertusuk hidung kemana arah tali ditarik kesitu kita melangkah mengikuti sistem busuk yang sengaja diciptakan. Padahal spanduk yang mereka cetak itu adalah dengan uang kita juga, stiker yang terpasang di mobil-mobil kampanye bahkan hingga sembako yang mereka antar sampai ke depan pintu rumah kita itu juga dibeli dengan uang kita sendiri, hanya saja uang itu mereka pakai lebih awal dari waktu yang harusnya kita terima, tapi perlu diingat kembali hanya satu pasangan calon yang dapat mengambil uang kita lebih awal dan dia adalah sang pemenang saat KPU mengumumkan siapa pemenang pemilukada nantinya.

 

Sebaliknya bagi calon yang kalah mereka itulah orang-orang jujur karna modal kampanyenya adalah murni uang pribadia atau koleganya. Hanya saja kita tidak pernah tau siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah, siapa yang akan berkampanye dengan uang sendiri dan siapa yang sedang berkampanye dengan uang rakyat. Mereka dalam membangun bisnis ini juga melibatkan orang lain yang lebih familiar dengan sebutan tim sukses, tim sukses ini lah yang nantinya akan menjadi karyawan pebisnis jabatan yang berhasil memenangkan pemilukada, mereka akan menjadi masyarakat Kelas I, masyarakan yang juga karyawan dari pemenang untuk mengumpulkan keuntungan.

 

Lalu modal-modal yang sudah keluar tadi tentunya akan dikalkulasikan lalu disusun lah sebuah rencana bisnis baru dalam waktu berapa lama modal itu harus kembali lalu mendapatkan untung layaknya bisnis jual/beli atau jasa pada umumnya. Ironisnya para pebisnis ini tidak menggunakan kalkulator made in dunia, tidak memakai rumus-rumus seperti pada microsoft excel meraka punya rumus sendiri yang hanya dia dan tuhannya saja yang tau, bahkan jika masih hidup aljabar sang penemu mate-matika pun tidak tau ilmu mate-matika mana yang digunakan oleh mereka untuk mendapatkan laba dalam bisnis jabatan ini.

 

Bagi sang pemenang otomatis dengan sendirinya lapak-lapak bisnisnya tumbuh saat itu juga, sudah tidak perlu door to door untuk menawarkan barang atau jasa, tapi door and doors itu sendiri yg akan menghampiri sang juara karna disana ada lahan yang sangat basah, lahan yang jika ditanami dengan tanaman apapun akan tumbuh subur hingga lima tahun kedepan. Maka tidak heran jika kita mendengar ada yang berani membayar sekian milyar hanya untuk mendapatkan posisi tertentu dalam bisnis ini karena mereka juga punya hitung-hitungan sendiri bagai mana cara mengembalikan modal da yang sudah disetor kepada pucuk pimpinan sekaligus mendapatkan keuntungannya.

 

Dalam tulisan ini penulis tidak sedang mengkampanyekan golput dalam pemilukada yang sebentar lagi akan diselenggarakan khususnya di Aceh tidak juga mengajak memilih pasangan dengan modal terendah agar dalam masa jabatannya nanti tidak menarik modal terlalu besar, penulis hanya mengharapkan siapapun gubernur Aceh yang terpilih nanti berniat membuat regulasi baru bersama dengan perwakilan kami (DPRA/DPRK) agar saat pemilukada pada tahun 2022 yang akan datang tidak lagi melahirkan para pebisnis jabatan baru yang terus mengambil keuntungan besar dari jabatannya dengan rumus dan hitungan mate-matika nya sendiri.

 

Dalam Butir MoU helsinky sangat memungkinkan Pemerintah Aceh membuat regulasi dan teknis sendiri dalam penyelenggaraan pemilu dengan penyesuaian-penyesuaian lebih lanjut. Hanya saja kita ragu apakah pemimpin kita mau merubah segala sistem yang saat ini sedang dipakai, jika mereka siap sama saja dengan menghancurkan kerajaan bisnis sang pemenang. Semua tergantung niat baik demi memakmurkan dan mensejahterakan rakyat atau demi kepentingan pribadi dan kelompok.

 

Cara paling mungkin meredam fenomena ini adalah dengan dilarangnya calon atau pasangan calon mengeluarkan modal pada saat bertarung, biarlah pemerintah menganggarkan dana yang besar setiap lima tahun sekali, daripada daerah harus kehilangan uang yang cukup besar setiap tahunnya karna ada target penarikan modal beserta keuntungan pribadi, kolega hingga tim sukses sang pemenang. Jika para pemimpin kita nantinya tidak tersangkut hutang modal kita harapkan dapat bekerja lebih maksimal tanpa harus menguntil disana sini hak-hak rakyat untuk membayar hutang kampanye. Semoga pemerintah yang bersih dan transparan seperti harapan kita semua dapat terbentuk demi pembangunan dan kesejahteraan kita semua.

 

Salam Muhammad Dardi

PILIHAN BOLEH BEDA TANYOE TETAP MEUSYEDARA

Comment

News Feed